Siraman Rohani
Thursday, December 27th, 2007Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah
universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan
gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan
wanita tersebut terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan
perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti
itukah?
Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu
dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada
sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara
pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari
fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya
tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita ’menunjukkan
eksistensi diri’ di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah
menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.
Kita bisa dapati
ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama ”Sekarang kerja
dimana?” rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan
pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk ”Saya
adalah ibu rumah tangga”. Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang
menanyakan itu ”sukses” berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau kita
bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama
dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak
berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia
harus berhadapan dengan ”nasehat” dari bapak tercintanya: ”Putriku!
Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja
ngurus suami dan anak.” Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat
dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung
jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.
Ibu Sebagai Seorang Pendidik
Syaikh
Muhammad bin Shalih al ’Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa
perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan
secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan
berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum
lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua,
perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di
dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab
wanita merupakan pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah
subhanahu wa ta’ala yang artinya:
”Dan hendaklah kalian tetap di
rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti
orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah
zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud
hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu
sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)
Pertumbuhan generasi
suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti
seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi
sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat
Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan
kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan
pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana beribadah
pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka
akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi
tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar,
mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa
empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi.
Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai
sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke
kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar
mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa
menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran
untuk membiasakannya.
Sebuah Tanggung Jawab
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:
”Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)
Firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: ”Peliharalah dirimu dan
keluargamu!” di atas menggunakan Fi’il Amr (kata kerja perintah) yang
menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin
yang mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari
bahaya api neraka.
Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali
bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu berkata, ”Ajarkan kebaikan kepada
dirimu dan keluargamu.” (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya
(IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat
Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya)
Muqatil
mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus
mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk
mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.
Ibnu
Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah
subhanahu wa ta’ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua
tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta
pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai
hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ”Kami wajibkan kepada manusia agar
berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al Ankabut: 7), maka
disamping itu Allah juga berfirman, ”Peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu.” (QS. At Tahrim:
6)
Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang
mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya,
lalu ia membiarkan begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan
besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang
acuh tak acuh terhadap anak mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban dan
sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga
mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak mereka ketika dewasa,
sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi ayahnya.
Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:
”dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.” (QS asy Syu’ara’: 214)
Abdullah
bin Umar radhiyallahu ’anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu
’alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), ”Kaum lelaki adalah pemimpin
bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya.
Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia
pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi
pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas
kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab
atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari 2/91)
Dari keterangan di
atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan
kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut
mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat
membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak
agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung
jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.
Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih
Bagaimana
hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak kita
yang usia 5 tahun mulai menumpuk, ”Mau untuk apa nak, tabungannya?”
Mata rasanya haru ketika seketika anak menjawab ”Mau buat beli CD
murotal, Mi!” padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab ”Mau buat
beli PS!” Atau ketika ditanya tentang cita-cita, ”Adek pengen jadi
ulama!” Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-anak
seusianya bermimpi ”pengen jadi Superman!”
Jiwa seperti ini
bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten.
Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk
setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan
tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu… jika
seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau
membiarkan anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita
bagaimana (TV, media, masyarakat,…) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai
para ibu -atau calon ibu-?
Setelah kita memahami besarnya peran
dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat
realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak
semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan
tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak
memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik
atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar
atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya… Bagaimana mungkin
pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa
dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh!
sangat jauh perbandingannya.
Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang
sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka memperhatikan
pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. Penulis
sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu nya
menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka.
Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih!
Padahal
anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya
yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu
kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Tidak inginkah hari kita terisi dengannya? Atau
memang yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih
hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk
membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai
keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan
bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa
senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.
Ketika
usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini
hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar
berjalan. Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik
anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang
dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan
anak-anak mereka?
Ketika malaikat maut telah datang, ketika
jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa
padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena
pintu amal telah ditutup, Siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak
pernah mengajari anak-anak kita?
Lalu…
Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata ’cuma’? dengan tertunduk dan suara lirih karena malu?
Penulis: Ummu Ayyub
Muroja’ah: Ust Abu Ahmad