KEISTIMEWAAN SEORANG WANITA

April 3rd, 2008 by opunkskw

1. Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah akan hal tersebut, jawab baginda, "Ibu lebih penyayang daripada bapa dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia".

2. Apabila seseorang perempuan mengandung janin
dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.

3. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin,maka Allah mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah.

4. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak,
keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

5. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap
satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.

6. Apabila semalaman ibu tidak tidur dan memelihara
anaknya yang sakit,maka Allah memberinya pahala seperti
memerdekakan 70 hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah.

7. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya,
darjatnya seumpama orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah dan orang yang takutkan Allah, akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

8. Barangsiapa membawa hadiah, (barang makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya
seperti bersedekah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka, barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail.

9. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan
agama, maka Allah memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).

10. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan
Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dikehendaki.

11. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1,000
lelaki yang soleh.

12. Aisyah berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah, siapakah
yang lebih besar haknya terhadap wanita? Jawab Rasulullah,
"Suaminya." "Siapa pula berhak terhadap lelaki?" Jawab Rasulullah, "Ibunya".

13. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibubapamu, maka
jawablah panggilan ibumu dahulu.

14. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut,
burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua
beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya serta menjaga sembahyang dan puasanya.

15. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup
pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah
dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

16. Syurga itu di bawah tapak kaki ibu.

17. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Nabi s.a.w) di dalam syurga.

18. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga
saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua
saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya syurga.

19. Daripada Aisyah r.a. Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada
mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka. "Jadi, janganlah sesekali kita merasa lemah. Wanitalah sebenarnya yang membuat seseorang lelaki itu kuat. Itulah salah satu sebab mengapa Nabi meletakkan wanita setaraf pada lelaki dan tidak lebih rendah. DO’A IBU UNTUK ANAK

Siraman Rohani

December 27th, 2007 by opunkskw

Hebat rasanya ketika mendengar ada seorang wanita lulusan sebuah
universitas ternama telah bekerja di sebuah perusahaan bonafit dengan
gaji jutaan rupiah per bulan. Belum lagi perusahaan sering menugaskan
wanita tersebut terbang ke luar negri untuk menyelesaikan urusan
perusahaan. Tergambar seolah kesuksesan telah dia raih. Benar seperti
itukah?

Kebanyakan orang akan beranggapan demikian. Sesuatu
dikatakan sukses lebih dinilai dari segi materi sehingga jika ada
sesuatu yang tidak memberi nilai materi akan dianggap remeh. Cara
pandang yang demikian membuat banyak dari wanita muslimah bergeser dari
fitrohnya. Berpandangan bahwa sekarang sudah saatnya wanita tidak hanya
tinggal di rumah menjadi ibu, tapi sekarang saatnya wanita ’menunjukkan
eksistensi diri’ di luar. Menggambarkan seolah-olah tinggal di rumah
menjadi seorang ibu adalah hal yang rendah.

Kita bisa dapati
ketika seorang ibu rumah tangga ditanya teman lama ”Sekarang kerja
dimana?” rasanya terasa berat untuk menjawab, berusaha mengalihkan
pembicaraan atau menjawab dengan suara lirih sambil tertunduk ”Saya
adalah ibu rumah tangga”. Rasanya malu! Apalagi jika teman lama yang
menanyakan itu ”sukses” berkarir di sebuah perusahaan besar. Atau kita
bisa dapati ketika ada seorang muslimah lulusan universitas ternama
dengan prestasi bagus atau bahkan berpredikat cumlaude hendak
berkhidmat di rumah menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak, dia
harus berhadapan dengan ”nasehat” dari bapak tercintanya: ”Putriku!
Kamu kan sudah sarjana, cumlaude lagi! Sayang kalau cuma di rumah saja
ngurus suami dan anak.” Padahal, putri tercintanya hendak berkhidmat
dengan sesuatu yang mulia, yaitu sesuatu yang memang menjadi tanggung
jawabnya. Disana ia ingin mencari surga.

Ibu Sebagai Seorang Pendidik

Syaikh
Muhammad bin Shalih al ’Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa
perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara: Pertama, perbaikan
secara lahiriah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan
berbagai urusan lahiriah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum
lelaki, karena merekalah yang sering nampak dan keluar rumah. Kedua,
perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di
dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan pada kaum wanita sebab
wanita merupakan pengurus rumah. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah
subhanahu wa ta’ala yang artinya:

”Dan hendaklah kalian tetap di
rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti
orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah
zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud
hendak menghilangkan dosa kalian, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu
sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab: 33)

Pertumbuhan generasi
suatu bangsa adalah pertama kali berada di buaian para ibu. Ini berarti
seorang ibu telah mengambil jatah yang besar dalam pembentukan pribadi
sebuah generasi. Ini adalah tugas yang besar! Mengajari mereka kalimat
Laa Ilaaha Illallah, menancapkan tauhid ke dada-dada mereka, menanamkan
kecintaan pada Al Quran dan As Sunah sebagai pedoman hidup, kecintaan
pada ilmu, kecintaan pada Al Haq, mengajari mereka bagaimana beribadah
pada Allah yang telah menciptakan mereka, mengajari mereka
akhlak-akhlak mulia, mengajari mereka bagaimana menjadi pemberani tapi
tidak sombong, mengajari mereka untuk bersyukur, mengajari bersabar,
mengajari mereka arti disiplin, tanggung jawab, mengajari mereka rasa
empati, menghargai orang lain, memaafkan, dan masih banyak lagi.
Termasuk di dalamnya hal yang menurut banyak orang dianggap sebagai
sesuatu yang kecil dan remeh, seperti mengajarkan pada anak adab ke
kamar mandi. Bukan hanya sekedar supaya anak tau bahwa masuk kamar
mandi itu dengan kaki kiri, tapi bagaimana supaya hal semacam itu bisa
menjadi kebiasaan yang lekat padanya. Butuh ketelatenan dan kesabaran
untuk membiasakannya.

Sebuah Tanggung Jawab

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya:

”Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah
terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)

Firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala yang artinya: ”Peliharalah dirimu dan
keluargamu!” di atas menggunakan Fi’il Amr (kata kerja perintah) yang
menunjukkan bahwa hukumnya wajib. Oleh karena itu semua kaum muslimin
yang mempunyai keluarga wajib menyelamatkan diri dan keluarga dari
bahaya api neraka.

Tentang Surat At Tahrim ayat ke-6 ini, Ali
bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu berkata, ”Ajarkan kebaikan kepada
dirimu dan keluargamu.” (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadrak-nya
(IV/494), dan ia mengatakan hadist ini shahih berdasarkan syarat
Bukhari dan Muslim, sekalipun keduanya tidak mengeluarkannya)

Muqatil
mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah, setiap muslim harus
mendidik diri dan keluarganya dengan cara memerintahkan mereka untuk
mengerjakan kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan maksiat.

Ibnu
Qoyyim menjelaskan bahwa beberapa ulama mengatakan bahwa Allah
subhanahu wa ta’ala akan meminta pertanggungjawaban setiap orang tua
tentang anaknya pada hari kiamat sebelum si anak sendiri meminta
pertanggungjawaban orang tuanya. Sebagaimana seorang ayah itu mempunyai
hak atas anaknya, maka anak pun mempunyai hak atas ayahnya. Jika Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ”Kami wajibkan kepada manusia agar
berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al Ankabut: 7), maka
disamping itu Allah juga berfirman, ”Peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka yang berbahan bakar manusia dan batu.” (QS. At Tahrim:
6)

Ibnu Qoyyim selanjutnya menjelaskan bahwa barang siapa yang
mengabaikan pendidikan anaknya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya,
lalu ia membiarkan begitu saja, berarti telah melakukan kesalahan
besar. Mayoritas penyebab kerusakan anak adalah akibat orang tua yang
acuh tak acuh terhadap anak mereka, tidak mau mengajarkan kewajiban dan
sunnah agama. Mereka menyia-nyiakan anak ketika masih kecil sehingga
mereka tidak bisa mengambil keuntungan dari anak mereka ketika dewasa,
sang anak pun tidak bisa menjadi anak yang bermanfaat bagi ayahnya.

Adapun dalil yang lain diantaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang artinya:
”dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang dekat.” (QS asy Syu’ara’: 214)

Abdullah
bin Umar radhiyallahu ’anhuma mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu
’alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), ”Kaum lelaki adalah pemimpin
bagi keluarganya di rumah, dia bertanggung jawab atas keluarganya.
Wanita pun pemimpin yang mengurusi rumah suami dan anak-anaknya. Dia
pun bertanggung jawab atas diri mereka. Budak seorang pria pun jadi
pemimpin mengurusi harta tuannya, dia pun bertanggung jawab atas
kepengurusannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab
atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari 2/91)

Dari keterangan di
atas, nampak jelas bahwa setiap insan yang ada hubungan keluarga dan
kerabat hendaknya saling bekerja sama, saling menasehati dan turut
mendidik keluarga. Utamanya orang tua kepada anak, karena mereka sangat
membutuhkan bimbingannya. Orang tua hendaknya memelihara fitrah anak
agar tidak kena noda syirik dan dosa-dosa lainnya. Ini adalah tanggung
jawab yang besar yang kita akan dimintai pertanggungjawaban tentangnya.

Siapa Menanam, Dia akan Menuai Benih

Bagaimana
hati seorang ibu melihat anak-anaknya tumbuh? Ketika tabungan anak kita
yang usia 5 tahun mulai menumpuk, ”Mau untuk apa nak, tabungannya?”
Mata rasanya haru ketika seketika anak menjawab ”Mau buat beli CD
murotal, Mi!” padahal anak-anak lain kebanyakan akan menjawab ”Mau buat
beli PS!” Atau ketika ditanya tentang cita-cita, ”Adek pengen jadi
ulama!” Haru! mendengar jawaban ini dari seorang anak tatkala ana-anak
seusianya bermimpi ”pengen jadi Superman!”

Jiwa seperti ini
bagaimana membentuknya? Butuh seorang pendidik yang ulet dan telaten.
Bersungguh-sungguh, dengan tekad yang kuat. Seorang yang sabar untuk
setiap hari menempa dengan dibekali ilmu yang kuat. Penuh dengan
tawakal dan bergantung pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu… jika
seperti ini, bisakah kita begitu saja menitipkannya pada pembantu atau
membiarkan anak tumbuh begitu saja?? Kita sama-sama tau lingkungan kita
bagaimana (TV, media, masyarakat,…) Siapa lagi kalau bukan kita, wahai
para ibu -atau calon ibu-?

Setelah kita memahami besarnya peran
dan tanggung jawab seorang ibu sebagai seorang pendidik, melihat
realita yang ada sekarang sepertinya keadaannya menyedihkan! Tidak
semua memang, tapi banyak dari para ibu yang mereka sibuk bekerja dan
tidak memperhatikan bagaimana pendidikan anak mereka. Tidak
memperhatikan bagaimana aqidah mereka, apakah terkotori dengan syirik
atau tidak. Bagaimana ibadah mereka, apakah sholat mereka telah benar
atau tidak, atau bahkan malah tidak mengerjakannya… Bagaimana mungkin
pekerjaan menancapkan tauhid di dada-dada generasi muslim bisa
dibandingkan dengan gaji jutaan rupiah di perusahaan bonafit? Sungguh!
sangat jauh perbandingannya.

Anehnya lagi, banyak ibu-ibu yang
sebenarnya tinggal di rumah namun tidak juga mereka memperhatikan
pendidikan anaknya, bagaimana kepribadian anak mereka dibentuk. Penulis
sempat sebentar tinggal di daerah yang sebagian besar ibu-ibu nya
menetap di rumah tapi sangat acuh dengan pendidikan anak-anak mereka.
Membesarkan anak seolah hanya sekedar memberinya makan. Sedih!

Padahal
anak adalah investasi bagi orang tua di dunia dan akhirat! Setiap upaya
yang kita lakukan demi mendidiknya dengan ikhlas adalah suatu
kebajikan. Setiap kebajikan akan mendapat balasan pahala dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Tidak inginkah hari kita terisi dengannya? Atau
memang yang kita inginkan adalah kesuksesan karir anak kita, meraih
hidup yang berkecukupan, cukup untuk membeli rumah mewah, cukup untuk
membeli mobil mentereng, cukup untuk membayar 10 pembantu, mempunyai
keluarga yang bahagia, berakhir pekan di villa. Tanpa memperhatikan
bagaimana aqidah, bagaimana ibadah, asal tidak bertengkar dan bisa
senyum dan tertawa ria di rumah, disebutlah itu dengan bahagia.

Ketika
usia senja, mata mulai rabun, tulang mulai rapuh, atau bahkan tubuh ini
hanya mampu berbaring dan tak bisa bangkit dari ranjang untuk sekedar
berjalan. Siapa yang mau mengurus kita kalau kita tidak pernah mendidik
anak-anak kita? Bukankah mereka sedang sibuk dengan karir mereka yang
dulu pernah kita banggakan, atau mungkin sedang asik dengan istri dan
anak-anak mereka?

Ketika malaikat maut telah datang, ketika
jasad telah dimasukkan ke kubur, ketika diri sangat membutuhkan doa
padahal pada hari itu diri ini sudah tidak mampu berbuat banyak karena
pintu amal telah ditutup, Siapakah yang mendoakan kita kalau kita tidak
pernah mengajari anak-anak kita?

Lalu…
Masihkah kita mengatakan jabatan ibu rumah tangga dengan kata ’cuma’? dengan tertunduk dan suara lirih karena malu?

Penulis: Ummu Ayyub
Muroja’ah: Ust Abu Ahmad

Ramadhan kareem..1428H

September 2nd, 2007 by opunkskw

Image Hosted by ImageShack.us

Image Hosted by ImageShack.us

Ramadan 1428 AH:
The astronomical New Moon is on Tuesday, September 11, 2007 at 12:44
Universal Time (i.e., 8:44 am EDT, and 5:44 am PDT ). This moon is
impossible to be seen any where on September 11. On September 12, the
moon will be visible in Australia, South Africa, South America, and
North America (e.g., in San Diego, CA at sunset, the age is over 44
hours, and moon is setting 35 minutes after sunset). Therefore, first
day of Ramadan (fasting) in North America, according to the criterion
adopted by the Fiqh Council of North America, is on Thursday,
September 13, insha’Allah.

Eid ul-Fitr 1428 AH:
The astronomical New Mooning is on Thursday, October 11, 2007, at 5:00
Universal Time (i.e., 1:00 am EDT - or October 10, 10:00 pm PDT). On
October 11, the moon is visible at the southwest coast of South
America, which is east of North America. (e.g., in Santiago, Chile at
sunset, the age is about 18 hours, and moon is setting 40 minutes
after sunset). According to visibility anywhere in the world, the
criterion adopted by the Fiqh Council of North America, Eid ul-Fitr in
North America is on Friday, October 12, insha’Allah.

resensi buku…….

September 2nd, 2007 by opunkskw

Masalah terpenting dari relasi Agama dan Negara (Kekuasaan) ialah menempatkan pemahaman keagamaan dan teorisasi kekuasaan sebagai proses sosial dan budaya yang tidak pernah berakhir. Semua orang dengan beragam aliran dan agama bisa terlibat aktif dalam semua moment politik, keagamaan dan kenegaraan sebagai bagian kemandirian warga dalam gagasan masyarakat sipil atau madani

Trainspotting

September 2nd, 2007 by opunkskw

Yang namanya drugs, tentunya bahaya banget. Biar anda bisa lebih ngerti dan tahu risiko penyalahgunaannya, tentunya perlu mempelajari sejumlah referensi literatur tentang drugs. Tapi, kadang-kadang membaca itu bisa jadi sesuatu kegiatan yang nyebelin dan ngebosenin banget. Ya, udah. Belajarnya diganti aja dari membaca menjadi nonton film. Mari kenalan lebih deket dengan drugs, dan semua hal yang berhubungan dengannya dengan cara menonton.

Ada satu keunggulan film dibandingin dengan media lain. Bahasa audio dan visual, itulah keunggulannya. Lewat film, sebuah penggambaran mengenai sesuatu akan menjadi lebih "jentre" dan dapat dicerna dengan lebih mudah. Udah bukan hal yang baru kalo para sineas film juga banyak yang berusaha buat bercerita mengenai drugs, dan marilah kita tonton film-film tersebut.

Okay, film yang bakalan kita tonton adalah film buatan Britania yang punya judul "Trainspotting". Sebuah film adaptasi dari sebuah novel berjudul sama karya Irvine Welsh, seorang novelis asal skotlandia.film ini meledak juga diamrik .

Film ini bercerita tentang sekelompok orang pencandu heroin yang tinggal di Edinburgh, Skotlandia, yang masing-masing punya latar belakang sosial berbeda. Tapi, sebelumnya saya mau mohon maaf dulu, soalnya tulisan ini bakalan ngasih sedikit spoiler filmnya, tapi moga-moga nantinya enggak ngeganggu kenikmatan anda kalo ingin nonton. Cerita utamanya, berkisar seputar karakter Mark Renton (Ewan McGregor), yang pada awal cerita memberikan narasi tentang gimana enggak asyiknya orang-orang yang terpaksa "choose life". Choose life yang dimaksud, adalah terjebak dengan jalur kehidupan yang monoton. Punya karier, punya TV berwarna, menikah, berkeluarga, punya anak, liburan rutin, dan hal-hal lain yang biasanya dilakukan oleh manusia modern dalam kehidupan sehari-hari. Narasi dilanjutkan dengan pernyataan Renton, I chose not to choose life. I chose somethin’ else. And the reasons? There are no reasons." Dan narasinya dilanjutkan setelah sebuah adegan yang ngeliatin Renton "fly" setelah nyuntik heroin. Akhir narasinya adalah, "Who needs reasons when you’ve got heroin?". Wow, mendingan heroin daripada hidup normal, katanya.

Pada awal film, mungkin anda bakal ngeliat gimana kehidupan sekelompok orang yang menjadikan drugs sebagai pegangan hidupnya begitu menyenangkan. Mau seneng-seneng? Tinggal make. Punya masalah? Nyuntik heroin, fly, seneng. Masalah beres.

Tapi makin ke belakang, anda bisa lihat kalo yang namanya hidup dengan drugs itu enggak bakalan seindah mimpi saat seorang pencandu lagi "fly". Banyak banget masalah yang harus dihadepin sama Renton cs., dan semuanya enggak bisa diberesin segampang membalik telapak tangan. Kematian karena over dosis, kejahatan karena butuh uang buat nenangin sakaw, semuanya bukan prospek yang baik untuk dijadiin pilihan hidup. Bahkan ingin sembuh dari kecanduan pun susahnya minta ampun. Tonton aja sendiri, deh! Pokoknya hidup dengan drugs itu enggak ada bagus-bagusnya sama sekali!

Pada akhirnya pun, Mark membantah ucapannya sendiri, dan menyatakan "I choose life" (walaupun masih misteri apakah dia udah bener-bener tobat atau belum, soalnya sempet beberapa kali gagal buat sembuh). Film ini juga seolah menyampaikan pesan, kalo udah sekali nyebur ke dalam dunia ini, bakalan susah buat meninggalkannya. Jadi mendingan enggak usah nyebur sama sekali, kan?

Gimana? Mau pilih "life" atau mau pilih "something else" (baca: drugs)?***

P.S.

Trainspotting ini penting banget buat anda tonton,soalnya banyak kejadia black commedynya yg mantaff, buat yang pengen tahu beberapa hal penting tentang drugs. Tapi pinter-pinter nontonnya, ya. Soalnya rating-nya buat dewasa, hehehe

CASH FLOW MATERIAL DAN CASH FLOW SPIRITUAL

June 7th, 2007 by opunkskw

CASH FLOW MATERIAL DAN CASH FLOW SPIRITUAL

Oleh : Syaiful Rahman Soenaria
Fakultas Ekonomi Universitas Frankfurt, Jerman

The economist, like everyone else, must concern himself with the ultimate aims of man. Alfred Marshall

Seorang pelajar ilmu bisnis pernah ditanya oleh pimpinan Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia tentang cara menghitung laba bersih bagi suatu usaha kecil. Pelajar tersebut menjawab: Kurangi saja total pendapatan yang kita peroleh dengan semua biaya operasi (biaya variabel dan biaya tetap) lalu kurangi lagi dengan zakat, dan terakhir kurangi lagi dengan pajak, maka akan diperoleh angka laba bersih. Namun yang bertanya langsung menanggapi dengan polos: Mengapa zakat dalam perhitungan tersebut mengurangi laba bersih? Bukankah Allah SWT sudah berjanji dalam al-Quran bahwa dengan membayar zakat, keuntungan kita akan terus tumbuh — seperti arti harfiah dari zakat itu sendiri — hingga 7, 70, bahkan 700 kali nilai nominal zakat yang kita telah bayarkan? Dengan demikian seharusnya zakat itu menambah, dan bukan mengurangi laba bersih kita. Lama sang pelajar terdiam.

Cash flow adalah padanan kata dari "aliran kas", sebuah istilah yang sering digunakan dunia usaha dan ekonomi untuk menyatakan pergerakan uang masuk (cash inflow) dan uang keluar (cash outflow) dari sebuah perusahaan, negara atau bahkan rumah tangga. Uang dalam perekonomian dunia saat ini menjadi representasi dari nilai kekayaan. Pergerakan uang dalam sebuah perusahaan, negara atau rumah tangga adalah seperti peredaran darah dalam tubuh manusia. Pertama, kehadirannya yang memungkinkan tubuh dapat beraktivitas. Demikian pula uang, dengan kehadirannya kita dapat melakukan kebaikan atau bahkan kerusakan di muka bumi. Semakin banyak uang kita miliki, tentu semakin besar peluang kita untuk berbuat kebaikan atau kerusakan tersebut. Kedua, distribusinya yang jika tidak normal dapat menyebabkan penyakit yang dirasakan seluruh bagian tubuh. Tak heran, Allah SWT memerintahkan agar harta kekayaan dalam masyarakat tidak boleh beredar hanya di kalangan tertentu saja, melainkan harus terdistribusi secara adil ke semua lapisan masyarakat. Dengan demikian penyakit sosial tidak akan menimpa kalangan kaya maupun miskin dalam masyarakat tersebut.

Ada prinsip yang sangat menarik di dalam Islam, yaitu harta kekayaan yang kita miliki di dunia harus dapat dipertanggungjawabkan dari dua
sisi: dari mana kita peroleh (cash inflow) dan ke mana kita belanjakan (cash outflow). Prinsip ini dapat kita kembangkan menjadi dasar pengelolaan kekayaan baik dalam rumah tangga, perusahaan, ataupun negara. Prinsip yang tidak hanya memperhatikan aspek kuantitas/jumlah dari kekayaan yang memang penting, melainkan juga kualitas dari cara memperoleh dan cara penggunaan kekayaan tersebut. Kualitas cara memperoleh dan cara penggunaan kekayaan akan sangat mempengaruhi kualitas dari pertumbuhan dan perkembangan suatu rumah tangga, perusahaan, atau negara. Lalu apa ukuran kualitas itu? Mudah saja, yang pertama halal, yang kedua thayib (baik). Yang tidak mudah adalah bersikap konsisten terhadap yang halal, serta inovatif dalam memperoleh dan menggunakan kekayaan pada hal yang thayib. Dengan prinsip seperti ini, kita dapat membuat kategori cash flow material dan cash flow spiritual.

Kembali pada cerita di atas, jawaban sang pelajar tentang perhitungan laba bersih tersebut adalah logika cash flow material, sedangkan komentar sang penanya adalah logika cash flow spiritual. Keduanya kita perlukan, dan sebenarnya tidak bertentangan. Logika cash flow material diperlukan untuk mencatat, menganalisis, dan mengevaluasi hasil usaha di masa lalu, sehingga kita akan lebih mudah membuat perencanaan ke depan secara rasional. Cash flow material juga berguna untuk membantu kita berkompetisi atau bekerja sama secara sehat dengan perusahaan atau negara lain dalam memperoleh keuntungan. Sedangkan cash flow spiritual adalah keyakinan sekaligus logika yang menjadi dasar setiap pengambilan keputusan kita dalam usaha, baik dalam lingkup perusahaan, negara, atau bahkan rumah tangga.

Keyakinan dan logika bahwa Allah selalu hadir dalam setiap aktivitas kita dan memberikan ganjaran bagi setiap kebaikan yang kita usahakan sekecil apapun itu. Keyakinan dan logika bahwa Allah adalah subjek yang aktif memberikan rezeki kepada kita dari jalan yang tidak kita sangka-sangka. Menggunakan istilah Adam Smith, Allah adalah the invisible hand/tangan gaib dalam perekonomian kita. Hanya saja logika cash flow spiritual berlaku terbalik. Adam Smith mengajarkan bila kita ingin memakmurkan masyarakat, maka berilah kesempatan seluas-luasnya kepada individu untuk menumpuk kekayaan, maka nanti akan ada invisible hand yang akan membuat masyarakat otomatis menjadi makmur. Itulah mekanisme pasar bebas.

Sedangkan cash flow spiritual di dalam Islam mengajarkan bila setiap individu ingin menjadi makmur, maka berusahalah selalu untuk beramal saleh memakmurkan masyarakat, nanti akan ada Allah sebagai the invisible hand yang akan memakmurkan masing-masing dari kita dari jalan yang tidak kita sangka-sangka. Dapat dikatakan bahwa cash flow material hanyalah alat atau instrumen bagi cash flow spiritual. Ada dua dimensi dari cash flow spiritual, dimensi kausalitas (sebab akibat) dan dimensi pertumbuhan.

Dimensi kausalitas
Perhitungan pendapatan nasional dengan indikator utama GNP/Produk Nasional Bruto, yang hingga saat ini digunakan semua negara di dunia, memiliki banyak keterbatasan. Salah satunya adalah bahwa GNP tidak membedakan antara pendapatan yang diperoleh dari aktivitas judi dan aktivitas riset ilmu pengetahuan, tidak membedakan antara pendapatan dari penjualan senjata untuk perang dan penjualan hak cipta buku, antara pendapatan jasa medis para dokter dengan aktivitas spekulatif para pialang saham. Dengan demikian dari manapun sumber pendapatan tersebut (cash inflow), yang penting bagi negara adalah nilai GNP tersebut semakin tinggi, dengan demikian pertumbuhan ekonomi juga tinggi dan kemudian diasumsikan masyarakat menjadi lebih makmur. Tidak peduli pendapatan tersebut bersumber dari aktivitas yang tidak halal, atau bersumber dari sektor ekonomi yang tidak mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, moral bekerja keras, dan akhlak masyarakat yang baik.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dipercaya dapat merangsang peningkatan pendapatan di masa mendatang (efek berganda). Logika seperti ini juga pada akhirnya diterapkan dalam lingkup suatu perusahaan atau bahkan rumah tangga. Bagaimana mengembangkan sebuah perusahaan atau sebuah rumah tangga, mengikuti pola logika pertumbuhan GNP tersebut pada lingkup negara.

Sedangkan logika cash flow spiritual sangat memperhatikan kualitas sumber pendapatan. Cash inflow yang diperoleh dari sumber yang halal dan baik akan otomatis digunakan pada hal-hal yang halal dan baik pula, demikian sebaliknya. Inilah dimensi kausalitas tersebut. Uang dari hasil korupsi sulit diharapkan untuk dibelanjakan kepada hal-hal yang positif mendukung kemajuan masyarakat. Pendapatan perusahaan yang bersumber dari aktivitas perjudian, pelacuran, dan minuman keras, akan menyulitkan para direktur dan manajer perusahaan tersebut untuk membina keluarga sakinah di tempatnya masing-masing. Pendapatan nasional yang strukturnya lebih banyak diberikan kontribusi oleh kegiatan pungutan liar, sogok, dan suap, akan menyulitkan negara tersebut untuk mengembangkan kualitas manusianya untuk dapat kompetitif di dunia, dan untuk membina masyarakatnya menjadi cerdas dan aman dalam berkah Allah.

Dengan demikian, logika cash flow spiritual akan memotivasi setiap kepala keluarga, pimpinan perusahaan dan pemerintah suatu negara untuk secara cerdas mencari sumber pendapatan bagi organisasinya, sedemikian rupa sehingga memberi peluang kepada organisasi tersebut dan semua individu di dalamnya untuk hidup dan berkembang secara baik, dari segi fisik, mental, dan intelektual.

Dimensi pertumbuhan
Bila uang yang kita miliki dalam rumah tangga, perusahaan, atau negara dibelanjakan kepada hal-hal yang halal dan baik, maka uang tersebut dengan peran Allah akan tumbuh terus menerus dan kembali kepada kita. Kekayaan rumah tangga, kekayaan perusahaan, dan kekayaan negara akan terus tumbuh dan bertambah.

Dimensi pertumbuhan lebih banyak bicara tentang cara penggunaan kekayaan (cash outflow). Sering kita mendengar kisah nyata bagaimana harta yang dibelanjakan untuk orang tua akan dengan berlipat ganda segera kembali kepada orang yang mengeluarkannya. Atau kisah tentang perusahaan-perusahaan yang banyak mengalokasikan anggarannya untuk melakukan riset inovasi produk, riset teknologi proses, dan pengembangan kualitas karyawannya. Perusahaan-perusahaan tersebut dengan cepat menikmati pertumbuhan tingkat penjualan dan laba yang tinggi dan berkelanjutan. Hal yang sama juga terjadi pada perusahaan-perusahaan yang peduli terhadap lingkungan hidup dan keadaan sosial masyarakat sekitar perusahaan beroperasi. Atau kisah beberapa negara di dunia yang lebih peduli membelanjakan anggaran negaranya untuk sektor pendidikan bagi warga negaranya, segera hanya dalam tempo beberapa puluh tahun dapat menikmati pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita yang tinggi, pemerataan pendapatan yang baik, serta iklim sosial yang egaliter dan stabil. Kesemua contoh tersebut membuktikan dimensi pertumbuhan dari logika cash flow spiritual.

Uang dan ekonomi, walaupun penting, bukanlah segalanya dalam kehidupan kita. Oleh karena itu sebagaimana ungkapan Alfred Marshall (salah satu tokoh ekonomi kapitalis klasik), teori ekonomi, kebijakan ekonomi, dan keputusan ekonomi haruslah diabdikan kepada pencapaian tujuan akhir dari hidup kita. Sebelum seorang kepala keluarga, pimpinan perusahaan atau kepala negara mencari dan membelanjakan harta kekayaan untuk organisasinya, mereka terlebih dulu akan bertanya: Apakah tujuan hidup kita sebenarnya?

Bahasa bul3 di betawi….

March 24th, 2007 by opunkskw

Dogh yu spik inglis wel, ai bet yu difikul andesten dis (D.O. setelah belajar 1 minggu BAHASA INGGRIS)

PART ONE

Ane kaget banget kemaren ini pas lewat di depannye kelurahan, ngebace spanduk nyang isinye:

SAVE THE COUNTRY, HANG TNI … SAVE THE PEOPLE, HANG POLRI

Usut punye usut, ternyate nyang dimaksud ialah:

"Keselametan negare, tergantung TNI .. keselametan rakyat, tergantung POLRI"

Bujubuneng …, rupenye si Lurah baru ikutan kursus bahase Inggris tapi udah nekat buat tampil …

PART TWO

Seorang supir lagi nyetirin boss bule Amrik, kebetulan lagi sial. Mobilnya nyodok kendaraan di depannya karena mendadak berhenti. Dengan terbata2 ia minta maaf kepada si boss:

Supir: Sorry Sir, I brake brake, do not eat. After I check the wheel no flower again. (maaf Tuan, saya rem2 nggak makan, setelah saya cek rodanya nggak ada kembangannya lagi)

Begitu si Boss mau ikutan ribut sama yg ditabrak, dia bilang:

Supir: Don’t follow mix, Sir! The bring that car if not wrong is the children fruit from manager moneys, he stupid doesn’t play! Let know taste. (nggak usah ikut campur, Pak! Yang bawa mobil itu kalo nggak salah anak buah dari manajer keuangan, dia memang bodoh bukan main! Biar tahu rasa)

Besoknya si supir gak masuk kerja, terus pas lusanya dia masuk si boss bule nanya:

Bule : Why didn’t you come to work?

Supir : I am sorry boss, my body is not delicious, my body taste like enter the wind.(maaf boss, badan saya tidak enak, badan saya rasanya seperti masuk angin)

yg paling jaha4t….d4ri semU4nya…

March 24th, 2007 by opunkskw

Sebuah virus baru sudah ditemukan, dan digolongkan oleh Microsoft sebagai yang paling merusak! Virus itu baru ditemukan pada hari Minggu siang yang lalu oleh
McAfee, dan belum ditemukan vaksin untuk mengalahkannya. Virus ini merusak Zero dari Sektor hard disc, yang menyimpan fungsi informasi-informasi terpenting. Virus ini berjalan sebagai berikut :

- secara otomatis virus ini akan terkirim ke semua nama dalam daftar alamat anda dengan judul "Sebuah Kartu Untuk Anda" (Une Carte Pour Vous, atau A
Card For You);
- begitu kartu virtual itu terbuka, virus itu akan membekukan komputer sehingga penggunanya harus memulainya kembali; kalau anda menekan CTRL+ALT+SUPPR
atau perintah untuk restart, virus itu akan merusak Zero dari Sektor Boot hard disc, sehingga hard disc akan rusak secara permanen.
Menurut CNN, virus itu dalam beberapa jam sudah menimbulkan kepanikan di New York. Peringatan ini telah diterima oleh pegawai Microsoft sendiri. Jangan
membuka e-mail dengan judul "Sebuah kartu virtual untuk Anda" (Une Carte Virtuelle Pour Vous atau A Virtual Card For You).
- Kirimkan pesan ini kepada semua teman anda. Saya rasa bahwa sebagian besar orang, seperti saya sendiri, lebih suka mendapat peringatan ini 25 kali daripada
tidak sama sekali.

AWAS!!!
Jangan terima kontak "pti_bout_de_chou hotmail.com".
Ini virus yang akan memformat komputer anda.
Kirimkan pesan ini ke semua orang yang ada di dalam daftar alamat anda.

Kalau anda tidak melakukannya dan salah seorang teman anda memasukkannya dalam daftar alamatnya, komputer anda juga akan terkena.

think ing……..

March 19th, 2007 by opunkskw

Five Ways to Successfully Negotiate a Salary

Brooks Hughes, President of RightFish

In the job search process, many people tend to be the most anxious about interviews. But, for some people, an equally frightening part of the job search is the salary negotiation process.

Talking about money is something that can make even the most confident people feel uneasy. This important process can be done with confidence if you know how to go about it and have a clear sense of what you really want.


One of the most important things to do before you begin talking job offers or salary requirements is setting your expectations realistically. Those who ask for too much can give the impression that they do not understand the market and ultimately end up disappointed. On the other hand, settling for too little isn’t a good choice either.


So what is the key to negotiating fairly? Experience and research can help, says Michael Morley, Jr., business manager with the Morley Group, a staffing and human resource management firm. "For the most part, people are fairly aware of what their market value is," Morley says. But he points out that, generally, the higher you go with respect to compensation, the more realistic professionals tend to be about their market value. This could be because they have more experience, learned from mistakes they have made, and have held enough jobs to have a good understanding of fair compensation.


Morley offers these five tips to help understand your worth and negotiate for it with confidence:


1. Do your research. "There are a variety of salary surveys that you as an individual can access over the Internet," Morley says. Research professional industry associations and HR Web sites. He also suggests browsing job postings and classified ads. While ads don’t always list salaries, you can often get ideas of a pay range companies are willing to offer.


2. Be realistic about your experience. "You need to be honest with yourself about what you can and cannot do," Morley says. For example, you may be tempted to apply for a job that is offering a $60,000 salary, even if you don’t meet the job requirements. One major part of being realistic about what you can make is being realistic about what skills you can bring to the table.


3. Be cautious about misinformation. Certain advertisements can give job seekers false hope about salary and job potential, Morley warns. For example, education programs that promise that their graduates make a certain amount of money often turn out to be atypical or totally inflated. The bottom line is that you cannot always take everything you hear or read as the truth. Educate yourself to find out what the standard really is.


4. Focus on the big picture. Morley says that he wants his clients to look at the big picture, not just one element of a job offer. "In a professional field, we caution people to not focus solely on compensation," he says. "The real thing to focus on is whether or not the job is right for you."


There are so many things to consider when taking a new job. From the company culture to whether or not the job is challenging enough, you need to weigh all of your options. "Compensation is important and it has to be reasonable and fair, but focusing on compensation alone is a poor way to do a job search," Morley says.


5. Be methodical in your decision making. Use a simple list-making method, Morley suggests. On a piece of paper, write down all the things that are important to you in order of their rank. While cash for most is king, having a short commute and good medical benefits might matter more than a few extra dollars. Or perhaps you’d be willing to trade a couple thousand dollars for more vacation time.


Having this knowledge about yourself, the market and your personal needs will give you the confidence to negotiate effectively. Write down your desired salary and the benefits you most desire. Be ready to play hardball, but give yourself a little wiggle room. That way if you have to negotiate, you can still achieve your bottom line total compensation goal.

rayuan 100 ME…..

March 14th, 2007 by opunkskw

Playboy merayu seorang gadis bernama Ratu.
Playboy : Ratu ku, aku Siap 1000 ME…
Ratu : apaan tuh 1000 ME?
playboy : artinya, aku siap 1.MEnjagamu… 2.MElindungi… 3.MEnyayangimu…. 4.MErayumu….. 5.MEncintaimu….
setelah 30 menit kemudian sampai pada nomer sembilan ratusan.
playboy : …. 989.MEmujamu…. 999.MEmanjakanmu….. eeee.. (dalam hati: waduh apalagi ya? abis nih gawat…..padahal kurang satu)
playboy : eeeee….
tiba-tiba Ratu memotong pembicaraan,
Ratu : pasti yang ke-1000. MElukaiku ya,kan? dasar playboy cap kodok!!!!…